Rabu, 08 Februari 2012

Kerinduan yang menyeruak (bag 1)

Pagi ini, hari berjalan seperti biasanya. Cahaya mentari menampakkan dirinya di balik gunung Salak. Semilir angin pagi nan sejuk sejenak menyergap dalam dadaku. Dalam-dalam ku nikmati karunia Allah ini. Mungkin suatu hari kelak aku tidak akan lagi bisa bernafas jika Allah menghendaki aku segera kembali padaNya. Terus ku nikmati sembari memuji kebesaran dan kasih sayang Rabb sekalian alam. Mentari sedikit-sedikit menyentuhkan lembut rasa hanyatnya bagi seluruh penduduk bumi saat itu. Sentuhannya sangat lembut membelai kulitku dan menghadirkan rasa tenang dan nyaman.  Akhirnya benarlah sudah ayat Allah  dalam surah Ar-Rahman, Maka Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan? Sungguh sebuah teguran bagi kita yang senantiasa lupa pada Nya. 
Dari lantai dua di sebuah rumah di Bogor ini, tiba-tiba pikirku melayang ke sebuah rumah dari kayu nan sederhana di Sumatera Barat sana. Rumah yang menjadi tempatku dilahirkan dan dibesarkan selama 17 tahun masa hidupku. Rumah yang kini hanya dihuni oleh ayah, ibu, dan dua adikku. Tanpa aku di sana.
"Apa yang sedang terjadi di sana? Apakah adik-adikku sudah besar sekarang? Apakah Ayah dan Ibu baik-baik saja?" Sontak pertanyaan ini berkelebat di kepalaku. Meneteslah airmataku secara perlahan. Mengalir tanpa hambatan. Sesegeranya aku ambil telepon genggamku. Ku coba hubungi satu-satunya nomor yang ada di rumahku, yaitu nomor hape ayah.  Tak lama kemudian, terdengar sebuah suara yang sangat ku kenal. Suara yang dulu membangunkanku saat subuh menjelang. Suara yang senantiasa memberi nasehat di telingaku. Ya , itu ayahku..... (to be continued)

Senin, 11 Juli 2011

Topeng Monyet, antara Kebutuhan dan Ironisme mempertahankan seni budaya

Hiruk pikuk kehidpan mahasiswa IPB seolah-olah sudah menjadi tradisi yang harus terjadi. Terutamanya di daerah sekitaran Babakan Raya (alias Bara ^^). Aku melangkahkan kaki yang sebetulnya telah letih ini menuju Cyber Merpati IPB. Sayup-sayup aku mendengar bunyi dentingan alunan musik yang baru satu tahun ini akrab di telingaku. Ya,,apalagi kalau bukan pertunjukan topeng monyet.
 

Sabtu, 09 Juli 2011

Masa Perkenalan Kampus, Masa terindah di Dunia Kampus (?)


Bulan Juli, adalah awal tahun kalender akademik di dunia kampus. Mahasiswa baru berdatangan ke kampus-kampus impian mereka setelah melalui seleksi masuk yang tergolong cukup sulit. Sulit atau tidaknya memasuki dunia kampus tergantung pada beberapa faktor. Faktor pertama yang mempengaruhi kesulitan memasuki dunia kampus adalah tingkat reputasi kampus tersebut. Semakin tinggi reputasi kampus, maka akan semakin banyak pemintanya dan berimplikasi pada semakin tingginya tingkat persaingan untuk memasuki dunia kampus itu. Faktor kedua adalah tingkat kemampuan akademik sang calon mahasiswa. Hal ini sangat penting untuk memastikan tingkat keberhasilan sang calon mahasiswa di dunia akademik kampus. Faktor ketiga adalah faktor ekonomi. Hal ini sebetulnya tidak perlu menjadi sebuah kendala memasuki dunia kampus. Karena begitu banyak beasiswa yang ditawarkan oleh berbagai lembaga termasuk pemerintah. Namun, tidak juga dipungkiri masih banyak yang menjadikan faktor ekonomi ini sebagai faktor pembatas memasuki dunia kampus yang konon katanya "Dunia Elit". 

Terlepas dari faktor-faktor penentu dalam memasuki dunia kampus, sekarang adalah waktunya calon mahasiswa baru untuk memulai babak baru. Babak adaptasi dan mengenal cara hidup dan pola menuntut ilmu di perguruan tinggi yang notabene baik sedikit ataupun banyak agak berbeda dengan dunia sekolah. Seorang yang menyandang predikat sebagai mahasiswa identik dengan mausia yang sudah dewasa dalam pemikirannya. Harus sudah belajar dan pandai memanfaatkan waktunya secara efektif. Seorang mahasiswa tentunya harus sudah bisa membagi-bagi waktunya untuk berbagai kegiatan bergantung pada tingkat prioritasnya. Sehingga perlulah adanya kegiatan yang dinamakan Masa Perkenalan Kampus. Namun, selama ini Masa Perkenalan Kampus yang lebih akrab disebut ospek ini cenderung bercitra negatif. Ajang ini hanya menjadi ajang "Pelampiasan dendam" dari senior terhadap juniornya. Sehingga esensi dari masa pengenalan kampus sendiri tidak didapatkan oleh mahasiswa baru. Ia tidak mengenal kampusnya dengan baik. Mahasiswa baru menjadi tidak tahu arah dan harus bagaimana di kampus tempat ia menuntut ilmu. Berimplikasi pada menurunya kualitas SDM kampus karena orientasi akademik mahasiswanya menjadi amburadul. 

Mungkin masih teringat bagi kita kasus yang terjadi di Sekolah Tinggi Pegawai Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor yang sekarang dikenal dengan IPDN. Kasus yang sangat tidak manusiawi oleh para taruna senior kepada juniornya. Dengan dalih pelatihan fisik dan sebagainya tindakan itu telah mengakibatkan beberapa nyawa generasi cemerlang bangsa terbuang sia-sia. Mungkin akan ada yang berkomentar, "itu ka di IPDN, kalau di Perguruan Tinggi seperti Universitas, Institut baik negeri maupun swasta tentunya berbeda". Mungkin memang benar bahwa di perguruan tinggi lain seperti universitas dan institut akan berbeda halnya dalam menjalankan masa perkenalan kampus. Karena mengingat baik universitas dan institut akan mempertahankan reputasinya di depan publik dan bangsa. Tapi, dalam hal konten acara pengenalan kampus kepada mahasiswa baru masih banyak yang perlu diperbaiki di universitas ataupun institut. 

Jumat, 08 Juli 2011

Ketika kehilangan Hape terasa lebih berat daripada kehilangan Uang

Hari ini terjadi hal yang sangat tidak bisa aku menduganya. Sungguh diluar dugaan. Hape ku tersayang mengalami sebuah kejadian yang  sangat tragis. Sekarang hape ku ini sedang dalam keadaan yang sangat oarah.. :'(

Tadi siang, ba'da ashar aku pergi jalan-jalan di dekat kolam FPIK. Kolam ini adalah "harta berhargaku" kelak di Departemen Budidaya Perairan. Saking berharganya, aku bahkan lupa kalau aku sedang memegang Hape.

Perjalanan Panjang Menuju-Mu (Sebuah Perjuangan menuju fitrah)

Ketika keputusan perubahan itu kumulai. Begitu banyak yang menentangnya. Didakwa bagai seorang pelaku kejahatan yang sangat berat. Begitulah konsekuensi untuk memilih perubahan menjadi lebih baik. Ketika lingkunganmu berbicara seolah menolakmu, lakukan terus dan buktikan perubahanmu akan membawa kebaikan bagimu dan bagi mereka.


Terus kususuri jalanan penuh hadangan ini. Tidak sedikit batu-batu yang berjatuhan menghujaniku. Entah itu batu yang kecil, entah itu batu yang besar. Semua dengan rasa tiada bersalah terus menghujani. Tapi ini belum seberapa dibandingkan apa yang Rasulullah dahulu dapatkan ketika menegakkan agama Allah. Menegakkan keagungan kalimat Tauhid. Mengingat perjuangan itu, akupun kembali ke niat awalku untuk menujuNya.